Diamond QQ - Marinir AS dan Unit Ekspedisi Laut (MEU) ke-24 memproses pengungsi saat melewati Pusat Kendali Evakuasi (ECC) di Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, Afghanistan, Sabtu (28/8/2021). ANTARA FOTO/U.S. Marine Corps/Staff Sgt. Victor Mancilla/Handout via REUTERS.
Pemerintah Taliban masih mengkaji kurikulum perkuliahan sebagai tindak lanjut dari komitmen kelompok untuk mengizinkan perempuan Afghanistan untuk kuliah. Menteri Pendidikan Tinggi Afghanistan Abdul Baqi Haqqani mengatakan perkuliahan untuk perempuan juga akan ditinjau.
Namun, dia memastikan bahwa Taliban tidak akan memberlakukan aturan yang sama seperti 20 tahun lalu, ketika perempuan dilarang kuliah. Bahkan, perempuan juga bisa melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana.
"Kami akan mulai membangun apa yang ada hari ini," kata Haqqani seperti dikutip Al Jazeera, Minggu (12/9/2021).
Wanita harus berhijab dan belajar di ruangan terpisah
Meski begitu, perempuan diperbolehkan menuntut ilmu dengan syarat wajib berhijab. Namun, tidak ada kepastian dari Haqqani apakah perempuan diwajibkan memakai niqab/burka untuk kuliah di perguruan tinggi.
Selain itu, segregasi gender juga akan ditegakkan. Artinya, perempuan tidak bisa belajar di ruangan yang sama dengan laki-laki, atau paling tidak dipisahkan oleh tirai. "Kami tidak akan mengizinkan anak laki-laki dan perempuan untuk belajar bersama," kata Haqqani.
Selain itu, metode pengajaran juga dapat dilakukan melalui streaming atau saluran TV tertutup.
Mahasiswi akan diajar oleh dosen wanita
Selain itu, nantinya perempuan atau mahasiswi juga akan diajar oleh dosen perempuan. Dia mengatakan ada banyak guru perempuan yang bisa mengajar siswa perempuan di Afghanistan.
“Alhamdulillah kami memiliki banyak guru perempuan. Kami tidak akan menghadapi masalah dalam hal ini. Segala upaya akan dilakukan untuk mencari dan menyediakan guru perempuan bagi siswa perempuan,” katanya.
Namun, jika tidak ada dosen perempuan, Taliban mengizinkan dosen laki-laki mengajar dengan syarat mahasiswa harus memakai cadar.
“Kalau memang ada kebutuhan, laki-laki juga bisa mengajar, tapi sesuai syariah, mereka harus menjaga cadar,” kata Haqqani.
Aturan Taliban tentang wanita
Pemerintah Taliban masih mengizinkan perempuan menjadi presenter, atau tampil di saluran berita. Namun, kebijakan ini belum resmi.
Sebelumnya, juru bicara Taliban Syed Zekrullah Hashmi mengatakan partisipasi perempuan dalam pemerintahan tidak diperlukan. Dia mengatakan pekerjaan wanita adalah melahirkan dan membesarkan anak.
"Tidak perlu perempuan berada di kabinet," kata Hashmi.





No comments:
Post a Comment